Tuesday, August 5, 2014

meditasi

kehidupan akan foredi mencermikan akan kemurnian leluhur, begitu juga...





secara alami kebahagiaan jamu kuat juga merupakan pengoabatan yang....



begitupula dengan obat ejakulasi dini merupakan hal yang Dr. Herbert Benson, pendiri Mind-Body Medical Institute, yang berafiliasi dengan Universitas Harvard dan beberapa rumah sakit Boston, melaporkan bahwa meditasi menginduksi sejumlah perubahan biokimia dan fisik dalam tubuh yang secara kolektif disebut sebagai "respon relaksasi."[10] Respon relaksasi meliputi perubahan-perubahan dalam metabolisme, denyut jantung, pernapasan, tekanan darah dan kimia otak. Benson dan timnya juga telah melakukan studi klinis di biara-biara Buddha di Pegunungan Himalaya.[11] Benson menulis The Relaxation Response untuk mendokumentasikan manfaat dari meditasi, yang pada tahun 1975 masih belum dikenal luas.[12]

Efek menenangkan dari meditasi[sunting | sunting sumber]
Menurut sebuah artikel pada bulan Maret 2006 dalam Psychological Bulletin, aktivitas EEG mulai melambat sebagai akibat dari latihan meditasi.[13] Sistem saraf manusia terdiri dari sistem parasimpatis, yang bekerja untuk mengatur denyut jantung, pernapasan dan fungsi-fungsi motorik involunter lainnya, dan sistem simpatis, yang membangkitkan tubuh, mempersiapkannya untuk kegiatan bertenaga. National Institutes of Health (NIH) telah menulis, "Diperkirakan bahwa beberapa jenis meditasi mungkin bekerja dengan mengurangi aktivitas pada sistem saraf simpatis dan meningkatkan aktivitas dalam sistem saraf parasimpatis," atau sama dengan meditasi yang menghasilkan pengurangan ketegangan dan peningkatan relaksasi.

Penggunaan terapi Barat dan MBSR[sunting | sunting sumber]
Meditasi telah memasuki arus utama perawatan kesehatan sebagai metode untuk mengurangi stres dan rasa sakit. Sebagai metode pengurangan stres, meditasi telah digunakan di rumah sakit dalam kasus penyakit kronis atau terminal untuk mengurangi komplikasi yang terkait dengan peningkatan stres yang mencakup menurunnya sistem kekebalan. Ada kesepakatan yang berkembang dalam komunitas medis bahwa faktor mental seperti stres secara signifikan berkontribusi pada kurangnya kesehatan fisik, dan ada gerakan yang berkembang dalam ilmu arus utama yang mendanai penelitian di bidang ini. Sekarang ada beberapa program perawatan kesehatan utama yang membantu mereka, baik sakit ataupun sehat, dalam mempromosikan kesehatan batin mereka, terutama program-program berbasis perhatian seperti Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR).

Sebuah meta-analisis di tahun 2003 menemukan bahwa MBSR, yang melibatkan kesiagaan untuk terus-menerus dalam kesadaran, tanpa berusaha menyensor pikiran, menyimpulkan bahwa bentuk meditasi mungkin secara luas berguna bagi individu yang sedang berupaya untuk mengatasi permasalahan-permasalahan klinis dan non-klinis. Diagnosa yang ditemukan bisa dibantu dengan menggunakan MBSR termasuk di dalamnya untuk sakit kronis, fibromyalgia, pasien kanker dan penyakit arteri koroner. Perbaikan juga dicatat untuk ukuran kesehatan fisik dan mental.[14]

Aliran perhatian[sunting | sunting sumber]
Meditasi perhatian, anapanasati, dan teknik-teknik terkait, dimaksudkan untuk melatih perhatian demi memprovokasi wawasan. Rentang perhatian yang lebih luas dan lebih fleksibel menjadikan lebih mudah untuk waspada terhadap suatu situasi, lebih mudah untuk bersikap objektif dalam situasi-situasi sulit secara emosional atau moral, dan lebih mudah untuk mencapai keadaan responsif, kesiagaan kreatif atau "aliran". Penelitian dari sekolah kedokteran Harvard juga menunjukkan bahwa selama meditasi, sinyal-sinyal fisiologis menunjukkan adanya penurunan respirasi dan peningkatan denyut jantung dan tingkat kejenuhan oksigen darah.[15]

Penelitian berdasarkan gaya meditasi[sunting | sunting sumber]
Meditasi wawasan[sunting | sunting sumber]
Sebuah studi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Umum Yale, Harvard, Massachusetts telah menunjukkan bahwa meditasi meningkatkan materi abu-abu di daerah tertentu dalam otak dan dapat memperlambat kerusakan otak sebagai bagian dari proses penuaan alami.

Penelitian ini melibatkan 20 orang dengan pelatihan “meditasi wawasan” Buddha intensif dan 15 orang yang tidak melakukan meditasi. Scan otak menunjukkan bahwa orang-orang yang bermeditasi memiliki peningkatan ketebalan materi abu-abu di bagian otak yang bertanggung jawab untuk perhatian dan pengolahan masukan sensoris. Beberapa peserta bermeditasi selama 40 menit sehari, sementara yang lain telah melakukannya selama bertahun-tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan ketebalan otak tergantung pada jumlah waktu yang dihabiskan dalam meditasi. Peningkatan ketebalan berkisar antara 0,004 dan 0,008 inci (0.1016 mm - 0.2032 mm).[16][17]

Meditasi yoga Kundalini[sunting | sunting sumber]
Ada beberapa studi pendahuluan yang telah dilakukan pada beberapa dari banyak jenis meditasi yang ditemukan dalam cabang Yoga yang dikenal sebagai Kundalini. Satu studi menunjukkan pendinginan tangan meditator saat mereka berlatih meditasi Sahaja Yoga dan studi lain menunjukkan adanya relaksasi ketika meditator memperhatikan napas mereka.

Sebuah studi membandingkan praktisi meditasi Sahaja Yoga dengan sekelompok non meditator yang melakukan latihan relaksasi sederhana, mengukur penurunan suhu kulit meditator dibandingkan dengan kenaikan suhu kulit non-meditator ketika mereka santai. Para peneliti mencatat bahwa semua studi meditasi lain yang telah mengamati suhu kulit telah mencatat adanya kenaikan dan tak ada satupun yang mencatat adanya penurunan suhu kulit. Hal ini menunjukkan bahwa meditasi Sahaja Yoga, dengan menjadi pendekatan keheningan mental, mungkin berbeda baik berdasarkan pengalaman dan fisiologis dari relaksasi sederhana.[18]

Pelatihan integratif tubuh-pikiran[sunting | sunting sumber]
Sebuah penelitian yang melibatkan partisipasi dari sekelompok mahasiswa, yang diminta untuk menggunakan teknik meditasi yang disebut integrative body-mind training (IBMT) melibatkan relaksasi tubuh, citra mental, dan pelatihan perhatian), menyimpulkan bahwa “bermeditasi dapat meningkatkan integritas dan efisiensi koneksi tertentu di otak” melalui peningkatan jumlah dan ketahanan koneksi tersebut.[19] Scan otak menunjukkan perubahan materi putih yang kuat di korteks singulat anterior.[20]Dr. Herbert Benson, pendiri Mind-Body Medical Institute, yang berafiliasi dengan Universitas Harvard dan beberapa rumah sakit Boston, melaporkan bahwa meditasi menginduksi sejumlah perubahan biokimia dan fisik dalam tubuh yang secara kolektif disebut sebagai "respon relaksasi."[10] Respon relaksasi meliputi perubahan-perubahan dalam metabolisme, denyut jantung, pernapasan, tekanan darah dan kimia otak. Benson dan timnya juga telah melakukan studi klinis di biara-biara Buddha di Pegunungan Himalaya.[11] Benson menulis The Relaxation Response untuk mendokumentasikan manfaat dari meditasi, yang pada tahun 1975 masih belum dikenal luas.[12]

Efek menenangkan dari meditasi[sunting | sunting sumber]
Menurut sebuah artikel pada bulan Maret 2006 dalam Psychological Bulletin, aktivitas EEG mulai melambat sebagai akibat dari latihan meditasi.[13] Sistem saraf manusia terdiri dari sistem parasimpatis, yang bekerja untuk mengatur denyut jantung, pernapasan dan fungsi-fungsi motorik involunter lainnya, dan sistem simpatis, yang membangkitkan tubuh, mempersiapkannya untuk kegiatan bertenaga. National Institutes of Health (NIH) telah menulis, "Diperkirakan bahwa beberapa jenis meditasi mungkin bekerja dengan mengurangi aktivitas pada sistem saraf simpatis dan meningkatkan aktivitas dalam sistem saraf parasimpatis," atau sama dengan meditasi yang menghasilkan pengurangan ketegangan dan peningkatan relaksasi.

Penggunaan terapi Barat dan MBSR[sunting | sunting sumber]
Meditasi telah memasuki arus utama perawatan kesehatan sebagai metode untuk mengurangi stres dan rasa sakit. Sebagai metode pengurangan stres, meditasi telah digunakan di rumah sakit dalam kasus penyakit kronis atau terminal untuk mengurangi komplikasi yang terkait dengan peningkatan stres yang mencakup menurunnya sistem kekebalan. Ada kesepakatan yang berkembang dalam komunitas medis bahwa faktor mental seperti stres secara signifikan berkontribusi pada kurangnya kesehatan fisik, dan ada gerakan yang berkembang dalam ilmu arus utama yang mendanai penelitian di bidang ini. Sekarang ada beberapa program perawatan kesehatan utama yang membantu mereka, baik sakit ataupun sehat, dalam mempromosikan kesehatan batin mereka, terutama program-program berbasis perhatian seperti Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR).

Sebuah meta-analisis di tahun 2003 menemukan bahwa MBSR, yang melibatkan kesiagaan untuk terus-menerus dalam kesadaran, tanpa berusaha menyensor pikiran, menyimpulkan bahwa bentuk meditasi mungkin secara luas berguna bagi individu yang sedang berupaya untuk mengatasi permasalahan-permasalahan klinis dan non-klinis. Diagnosa yang ditemukan bisa dibantu dengan menggunakan MBSR termasuk di dalamnya untuk sakit kronis, fibromyalgia, pasien kanker dan penyakit arteri koroner. Perbaikan juga dicatat untuk ukuran kesehatan fisik dan mental.[14]

Aliran perhatian[sunting | sunting sumber]
Meditasi perhatian, anapanasati, dan teknik-teknik terkait, dimaksudkan untuk melatih perhatian demi memprovokasi wawasan. Rentang perhatian yang lebih luas dan lebih fleksibel menjadikan lebih mudah untuk waspada terhadap suatu situasi, lebih mudah untuk bersikap objektif dalam situasi-situasi sulit secara emosional atau moral, dan lebih mudah untuk mencapai keadaan responsif, kesiagaan kreatif atau "aliran". Penelitian dari sekolah kedokteran Harvard juga menunjukkan bahwa selama meditasi, sinyal-sinyal fisiologis menunjukkan adanya penurunan respirasi dan peningkatan denyut jantung dan tingkat kejenuhan oksigen darah.[15]

Penelitian berdasarkan gaya meditasi[sunting | sunting sumber]
Meditasi wawasan[sunting | sunting sumber]
Sebuah studi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Umum Yale, Harvard, Massachusetts telah menunjukkan bahwa meditasi meningkatkan materi abu-abu di daerah tertentu dalam otak dan dapat memperlambat kerusakan otak sebagai bagian dari proses penuaan alami.

Penelitian ini melibatkan 20 orang dengan pelatihan “meditasi wawasan” Buddha intensif dan 15 orang yang tidak melakukan meditasi. Scan otak menunjukkan bahwa orang-orang yang bermeditasi memiliki peningkatan ketebalan materi abu-abu di bagian otak yang bertanggung jawab untuk perhatian dan pengolahan masukan sensoris. Beberapa peserta bermeditasi selama 40 menit sehari, sementara yang lain telah melakukannya selama bertahun-tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan ketebalan otak tergantung pada jumlah waktu yang dihabiskan dalam meditasi. Peningkatan ketebalan berkisar antara 0,004 dan 0,008 inci (0.1016 mm - 0.2032 mm).[16][17]

Meditasi yoga Kundalini[sunting | sunting sumber]
Ada beberapa studi pendahuluan yang telah dilakukan pada beberapa dari banyak jenis meditasi yang ditemukan dalam cabang Yoga yang dikenal sebagai Kundalini. Satu studi menunjukkan pendinginan tangan meditator saat mereka berlatih meditasi Sahaja Yoga dan studi lain menunjukkan adanya relaksasi ketika meditator memperhatikan napas mereka.

Sebuah studi membandingkan praktisi meditasi Sahaja Yoga dengan sekelompok non meditator yang melakukan latihan relaksasi sederhana, mengukur penurunan suhu kulit meditator dibandingkan dengan kenaikan suhu kulit non-meditator ketika mereka santai. Para peneliti mencatat bahwa semua studi meditasi lain yang telah mengamati suhu kulit telah mencatat adanya kenaikan dan tak ada satupun yang mencatat adanya penurunan suhu kulit. Hal ini menunjukkan bahwa meditasi Sahaja Yoga, dengan menjadi pendekatan keheningan mental, mungkin berbeda baik berdasarkan pengalaman dan fisiologis dari relaksasi sederhana.[18]

Pelatihan integratif tubuh-pikiran[sunting | sunting sumber]
Sebuah penelitian yang melibatkan partisipasi dari sekelompok mahasiswa, yang diminta untuk menggunakan teknik meditasi yang disebut integrative body-mind training (IBMT) melibatkan relaksasi tubuh, citra mental, dan pelatihan perhatian), menyimpulkan bahwa “bermeditasi dapat meningkatkan integritas dan efisiensi koneksi tertentu di otak” melalui peningkatan jumlah dan ketahanan koneksi tersebut.[19] Scan otak menunjukkan perubahan materi putih yang kuat di korteks singulat anterior.[20]